digital art niiloo

Digital Art: Vector Art, Vexel Art dan Pixel Art dalam Timbangan Hukum Islam

by January 11, 2018
Digital Art 0   161 views 0

Dalam ash-Shahīhaīn (al-Bukhari dan Muslim) Diriwayatkan dari Abu Sa’id رضي الله عنهما, ia berkata, Nabi ‎صلى الله عليه وسلم bersabda,

‎ اِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُوْنَ

“Sesungguhnya manusia yang paling keras siksaannya pada hari Kiamat adalah orang-orang yang menggambar (makhluk yang bernyawa).” — Hadits Muttafaq ‘Alaih; Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.

al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa dia berkata, Aku mendengar Rasulullāh ‎صلى الله عليه وسلم bersabda,

‎ كُلُّ مُصَوِّرٍ فِي النَّارِ، يُجْعَلُ لَهُ بِكُلِّ صُوْرَةٍ صُوَّرَهَا نَفْسٌ يُعَذَّبُ بِهَا فِيْ جَهَنَّمَ

“Setiap penggambar berada dalam Neraka, setiap Gambar yang dibuatnya akan diberi nyawa guna menyiksa dirinya di dalam Neraka Jahannam.” — Lafazh ini dinukil dari Syaikh Muhammad at-Tamimi, Kitab at-Tauhid al Ladzi huwa Haqqullah ‘ala al-‘Abid, hal. 184. Edisi bahasa Indonesia. — Lihat juga Shahih Muslim nomor 2109 & 2110.

Kesalahan Substansial Desainer Muslim/ Digital Artist Muslim

Meggambar/ melukis makhluk hidup bernyawa yang jelas-jelas larangannya malah ditekuni mulai dari vector art, pexel hingga pixel art, dengan berbagai embel-embel predikat syari’ah (katanya); kartun syari’ah, kreatif syari’ah, dan seterusnya. Dengan interpretasi dalil larangan menggambar makhluk hidup bernyawa kedalam aktifitas tashwir/ menggambar makhluk tanpa disertai detail wajah.

Padahal menghilangkan/ memotong/ merusak detail wajah pada gambar/ lukisan makhluk hidup bernyawa (manusia dan hewan) adalah dalam itikad untuk menghinakan gambar yang sudah dibuat. Bukan membuat gambar/ lukisan baru tanpa wajah.

Bersusah payah serta membuang waktu untuk memaksakan istilah yang mereka (ilustrator/ mushowwir) buat sendiri “kartun syari’ah” dan berbagai istilah yang senada dengan itu, sebuah istilah yang tidak bersumber dari Islam dan tidak akan pernah menjadi bagian dari Islam.

Dengan berbagai tujuan; publikasi digital, reminder kreatif, ilustrasi artikel, dan seterusnya.

Mengapa?

Malu-malu menghindari fotografi yang ini dibolehkan dalam Islam (Fatwa Syaikh ‘Utsaimin رحمه الله), hingga fatwa Syaikh bin Baz رحمه الله beserta al-Lajnah ad-Dā’imah lil-Buhuts al-‘Ilmiyyah wal-Iftā masih memberikan peluang untuk bolehnya fotografi (dengan syarat khusus). Mereka (ilustrator/ mushowwir/ penggambar/ pelukis/ pembuat konten kreatif) malah jatuh dalam kerancuan berpikir dalam era kreatif digital. Ya jadinya gitu, salah kaprah Mase, mekso byangeeeeet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *